Audiotorial “Apresiasi Buat Kejari Jember”

newsHari ini, Selasa 7 Oktober 2014, Kejaksaan Negeri Jember mengundang sejumlah media. Nama acaranya disebut ”Media Gathering”. Tujuannya, menghimpun masukan dan kritik membangun dari media dan para jurnalis. Pada kesempatan itu, Kepala Kejaksaan Negeri, Kajari Jember, Pak Hadi Sumartono, menyinggung perkembangan terakhir proses hukum dugaan penyimpangan dana sewa pesawat untuk keperluan operasionalisasi Bandara Noto Hadinegoro. Katanya, kelanjutan proses perkara itu masih harus menunggu perhitungan kerugian negara oleh BPK dan BPKP.

Kejaksaan Negeri Jember, menurut Pak Hadi Sumartono, sudah melayangkan surat ke dua lembaga audit tersebut. Tetapi, kedua lembaga audit itu, maksudnya BPK dan BPKP, menyatakan masih melakukan penggalian data. Sementara beberapa perkara dugaan korupsi yang lain, Pak Kajari Hadi Sumartono menegaskan, prosesnya jalan terus.

Publik tentu sangat menghargai langkah yang ditempuh Kejaksaan Negeri Jember. Untuk meningkatkan kinerjanya, terutama dalam memberantas dan mencegah koprupsi, lembaga penegak hukum ini bersedia menimba dan menggali masukan dari media. Barangkali Pak Kajari juga memahami, media adalah penyampai kabar kepada publik luas. Pak Kajari ingin apa yang sudah, sedang, dan akan dilakukan serta hambatan apa saja yang dihadapi kejaksaan dipahami masyarakat. Tentu saja cara paling efektif adalah menyampaikan semua persoalan itu melalui media.

Sekali lagi, publik, dan tentu juga media, sangat mengapresiasi langkah yang ditempuh Kejaksaan Negeri Jember. Memberantas dan mencegah korupsi memang bukan melulu tugas kejaksaan serta lembaga penegak hukum lainnya. Ikhtiar mencegah dan memberantas korupsi adalah tugas segenap elemen bangsa. Lebih-lebih bangsa ini sudah menyepakati korupsi adalah ”Kejahatan Luar Biasa”. ”Extra Ordinary Crime”, kata orang pintar.

Akhirnya, publik kira-kira juga berharap di sana ada pemahaman bahwa salah satu dari sekian fungsi media adalah ”kontrol sosial”. Jadi, kalau Kajari Jember, Pak Hadi Sumartono, mengundang media, kira-kira undangan itu secara tersirat juga diniatkan serta dimaksudkan untuk mengajak serta media melakukan fungsi kontrol sosial dengan baik. Kontrol terhadap pejabat publik, kontrol terhadap penyelenggara negara bahkan kontrol terhadap masyarakat dari kemungkinan munculnya praktik korupsi. Sedemikian rupa, sehingga media tidak dipahami melulu sebagai alat lalu diundang untuk membangun citra.

(Aga)

 

 

Comments are closed.