Audiotorial “Gorong-Gorong dan Serapan Anggaran”

Gorong-gorong jalan Jawa segera digarap. Malah menurut Kepala Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air, pak Rasyid Zakaria, pekerjaan itu tidak bisa ditunda-tunda. Diutarakan juga, pekerjaan itu harus rampung dalam tempo  3 bulan. Proyek itu tentu saja tidak bisa ditunda, karena kalender anggaran tersisa hanya beberapa bulan. Apalagi menurut pak Rasyid, pembangunan saluran air di kawasan kampus terdapat dalam RPJMD.

Jadi, memang tidak ada alasan menunda pekerjaan. Sebaliknya, proyek itu mestinya dikerjakan segera setelah APBD 2017 digedog. Sebegitu rupa sehingga pengerjaan tidak diburu waktu yang oleh karena berpotensi mempengaruhi kualitas proyek. Malah mestinya seluruh rencana segera dieksekusi begitu APBD disahkan. Bukan hanya agar tidak diburu waktu, lebih dari itu agar anggaran bisa segera terserap.

Berkaca dari serapan anggaran semester pertama yang hanya 26 persen, menyerap 74 persen sisa anggaran dalam tempo 4-5 bulan bukan pekerjaan gampang. Syukur kalau terserap. Kalau tidak, maka resikonya adalah bertambahnya SILPA.

Ketua Komisi B DPRD Jember, pak Bukri juga sudah mengingatkan, rendahnya serapan anggaran bisa mengakibatkan pergerakan ekonomi tersendat. Malah, kabarnya pak Bukri minta dan mendorong pimpinan dewan melayangkan surat ke Gubernur agar Gubernur menegur Bupati lantaran serapan anggaran APBD 2017 pada semester pertama masih 26 persen.

Begitulah, Korelasi serapan anggaran dengan pergerakan ekonomi, sebagian besar, kalau tidak semua orang, menganggapnya signifikan. Wakil rakyat juga merasakan dampaknya, karena mereka dianggap bohong oleh konstituen. Partai Politik juga begitu, berpotensi kena imbasnya. Janji bahwa kalau terpilih nanti akan membangun ini itu tidak terbukti. (Aga)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments are closed.