Audiotorial “PDAM dan Kalender”

Indonesia Bureaucracy Watch (IBW) melaporkan ke Bawaslu dugaan kampanye terselubung. Dugaan kampanye terselubung itu dilakukan dengan cara mencantumkan foto Abdul Rohim pada kalender PDAM Jember. Pada kalender tersebut dicantumkan foto 4 figur yang dianggap sebagai tokoh Masyarakat Jember, yakni Bupati, Wakil Bupati, Direktur PDAM, dan Abdul Rohim.

Dirut PDAM Jember, Ady Setiawan, mengakui mencantumkan foto Abdul Rohim karena memasan air minum produk unit usaha PDAM hingga mencapai Rp 175 juta. Dengan demikian pencantuman foto Abdul Rohim tidak diniatkan dan disengajakan untuk keperluan kampanye. Apalagi, tandas Ady Setiawan, pembelian air minum produk unit usaha PDAM itu berlangsung sejak 2017. Jadi, jauh sebelum Abdul Rohim maju sebagai caleg. Siapapun, termasuk caleg, bisa dipajang fotonya di media promosi PDAM asalkan membeli air minum produk unit usaha PDAM. Tetapi pencantuman foto, kata Ady Setiawan, itu tidak disertai keterangan sebagai caleg. Begitulah, klarifikasi sudah diberikan Dirut PDAM Jember. Dalam keterangannya Dirut PDAM juga menyatakan siap memberikan klarifikasi kepada Bawaslu.

Apa yang bisa dipetik dari peristiwa itu adalah bahwa Pemilu menjadi kepentingan sebagian besar, kalau tidak bisa dibilang semua pihak. Masyarakat, karena berkepentingan lalu ikut mengawasi. Tujuannya, agar pemilu benar-benar jurdil yang dengan begitu pemilunya  berkualitas dan bermartabat. Sebaliknya, karena merasa berkepentingan terhadap pemilu yang berkualitas dan bermartabat, pihak terlapor siap memberikan penjelasan serta siap menjalani tindak lanjut pelaporan itu.

Kedua, laporan dugaan kampanye terselubung, kendati sulit membuktikan bahwa di sana ada unsur niat dan kesengajaan, bisa dilihat sebagai pesan kepada semua pihak untuk bertindak lebih hati-hati. Masyarakat cukup kritis melihat gejala yang berlangsung di sekitarnya. Termasuk ketika melihat sesuatu yang dianggap ganjil. IBW mungkin melihat pencantuman foto caleg pada kalender BUMD tidak patut. Apalagi menyebut sosok dalam foto itu sebagai tokoh masyarakat gara-gara membeli air minum produk unit usaha PDAM dalam jumlah tertentu.

Sebab, ini kalau boleh mengira, IBW bisa jadi beranggapan untuk bisa disebut sebagai tokoh masyarakat syarat yang harus dipenuhi cukup ketat. Terutama tentu saja yang menyangkut integritas, komitmen dan sumbangsih sosok tersebut terhadap masyarakat dan lingkungan. Jadi, bukan sekadar karena membeli produk BUMD. Kalau ukuran atau syaratnya  membeli produk, maka penghargaan yang lebih patut adalah apreasiasi umpamanya sebagai pelanggan setia, pelanggan loyal atau pelanggan dengan nilai transaksi terbanyak. Jadi, urusannya agak jauh dari urusan publik, melainkan urusan antara pelanggan dan produsen.

Nah, sekarang tinggal menunggu proses selanjutnya di Bawaslu. Apapun hasilnya, ketika Bawaslunya fair dan obyektif, maka masing-masing pihak harus menerimanya. Dan lebih dari semua itu yang patut diapresiasi adalah kesamaan sikap dan komitmen yang diperlihatkan pelapor dan terlapor terhadap pemilu, yakni sikap dan komitmen bahwa pemilu harus jurdil, berkualitas dan bermartabat. (Aga)

 

Comments are closed.