Audiotorial “Warga Gotong-Royong Tambal Jalan”

Ratusan warga Dusun Klayu desa Tegal Waru  dan dusun Klayu Desa Mayang gotong royong memperbaiki jalan di dusun mereka yang mengalami rusak berat. Warga kedua dusun itu khawartir kerusakan meluas dan  korban makin banyak. Sementara menunggu perbaikan dari Pemkab terlalu lama. Warga setengahnya juga kecewa, karena merasa sudah menyumbang suara cukup signifikan bagi Bupati-Wakil Bupati terpilih pada pilkada 2015.

Yang dilakukan warga dusun Klayu berbeda dari kelaziman. Lazimnya protes dilakukan warga dengan menancapkan pohon pisang di jalan yang berlubang. Kalau boleh menduga, kira-kira saja warga Dusun Klayu ingin jalan mereka segera berfungsi normal. Sebab, menurut tokoh masyarakat setempat jalan itu adalah akses penting. Akses ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Jadi, mereka tidak ingin mobilitas sosial dan ekonomi warga tersendat. Warga kira-kira berpikiran, makin lama dibiarkan kerusakan akan makin parah bahkan meluas, sehingga mobilitas sosial dan ekonomi makin tersendat, bahkan bisa jadi lumpuh.

Yang kedua, warga bergotong-royong memperbaiki sendiri kerusakan jalan lantaran ingin berkirim pesan. Pesan tentang kinerja Pemerintah Daerah dan  pesan tentang empati penentu kebijakan. Dalam pesan itu, ini kira-kira juga, warga dusun Klayu ingin memperlihatkan empati terhadap sesama warga, bahkan terhadap pemimpin. Sebab, jalan itu hampir setiap hari dilewati Wakil Bupati.

Begitulah, warga Klayu sepertinya memperlihatkan sesuatu yang dari sana bisa dipetik sebuah pelajaran. Pelajaran bahwa warga bisa berbuat sesuatu tanpa menunggu kehadiran Pemerintah. Pelajaran bahwa warga Klayu memiliki empati, yang dengan empati itu bahkan ikut merasakan apa yang dirasakan pemimpin mereka yang hampir setiap hari melewat jalan yang rusak. Dan bagi sementara orang, yang diperlihatkan warga Klayu bisa jadi merupakan pesan yang jauh lebih keras ketimbang menanam pohon pisang di jalan berlubang. (Aga)

Comments are closed.