Hingga Akhir Tahun Lalu, LPS Menutup 92 Bank yang Mengalami Kebangkrutan

Hingga akhir tahun 2018 lalu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menutup 92 bank yang mengalami kebangkrutan. Demikian Disampaikan Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan dan Protokoler Lembaga Penjamin Simpanan, Raditya Adi Nugroho, usai sosialisasi fungsi dan peran LPS di Kabupaten Jember.

Raditya menyampaikan, dari 92 perbankan yang ditutup tersebut, 6 diantaranya berasal dari Jawa Timur. Rata-rata perbankan yang bermasalah merupakan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Sedangkan bank umum yang sudah dilikuidasi, ada satu yakni bank IFI. Menurut Raditya, banyaknya Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang dilikuidasi rata-rata karena manajemen melarikan dana nasabah untuk kepentingan pribadi. Di sinilah peran dan fungsi dari Lembaga Penjamin Simpanan untuk menjamin dana simpanan nasabah sehingga ketika perbankan dinyatakan bangkrut dan dilikuidasi, hak-hak nasabah tetap bisa diberikan. LPS memberi tenggat waktu hingga lima tahun kepada nasabah untuk mengajukan klaim dana simpanan sejak bank tersebut ditutup.

Lebih jauh Raditya menjelaskan, LPS adalah lembaga yang disiapkan agar menciptakan rasa aman bagi nasabah serta menjaga stabilitas sistem perbankan. LPS dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan dan berlaku efektif sejak tanggal 22 September 2005. (Fian)

Comments are closed.