Audiotorial “Pendamping PKH dan Pemilu”

Dinas Sosial Jember memastikan pendamping Program Keluarga Sejahtera yang terbukti terlibat dalam tim pemenangan caleg maupun capres akan diberhentikan sebagai pendamping. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Sosial Jember, Isnaini Dwi Sushanti, menyusul laporan masyarakat tentang keterlibatan pendamping Program Keluarga Sejahtera dalam tim pemenangan caleg maupun capres. Isnaini menegaskan, Dinas Sosial merespon laporan masyarakat dengan melakukan penelusuran dan penelisikan.

Begitu memang seharusnya. Penjelasannya sangat sederhana, yakni agar PKH terhindar dari penyalahgunaan, taruh misalnya digunakan sebagai klaim untuk kepentingan meraih suara. Pendamping PKH, meski tidak eksplisit menyampaikan pesan kepada keluarga yang didampinginya, akan tercitra sebagai pihak pemberi bantuan Program Keluarga Harapan. Apalagi jika pendamping, secara samar-samar atau terang-terangan menyampaikan bahwa bantuan untuk keluarga sasaran PKH berasal dari pihak yang sedang berkontestasi dalam pemilu.

Sikap Dinas Sosial Jember dengan begitu mesti diapresiasi. Pemilu adalah urusan menggunakan hak suara, urusan partisipasi warga dalam proses politik. Dalam literatur disebutkan, partisipasi politik terbagi sedikitnya ke dalam dua jenis. Pertama, partisipasi atas dasar mobilisasi. Partisipasi jenis ini biasanya terjadi di negera-negara otoriter. Warga berpartisipasi karena dimobilisasi dan diarahkan. Pada tingkat tertentu malah diintimidasi.

Jenis kedua adalah partisipasi atas dasar sukarela. Orang pintar menyebutnya partisipasi self motion. Partisipasi jenis ini merujuk pada pengertian partisipasi yang bebas dari intervensi dalam bentuk apapun. Bisa jadi dasarnya adalah afeksi, rasa atau hati nurani. Tetapi, bisa pula yang mendasarinya adalah pertimbangan-pertimbangan rasional.

Dalam praktik demokrasi, yang dikehendaki adalah partisipasi atas dasar kesukarelaan, partisipasi self motion. Warga bebas dari segala bentuk intervensi atau campur tangan  ketika menggunakan dan menyalurkan hak suaranya. Kerahasiaannya terjamin dan dijamin. Itu sebabnya asas pemilu adalah LUBER (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia). Tujuannya, agar pemilunya berkualitas dan berintegritas. Hasilnya pun berlegitimasi. Kalau pemilunya berlegitimasi, maka pemimpin yang dihasilkannyapun berlegitimasi. Sebab mereka adalah pemimpin yang dipilih dengan sukarela oleh warga. Dipilih tanpa tekanan, arahan dan iming-iming. (Aga)

 

 

 

 

 

Comments are closed.