Audiotorial “Memaknai Pemilu”

Ketika demokrasi menjadi pilihan, maka pemilu menjadi sangat penting. Begitu pentingnya sampai-sampai tidak ada rezim di dunia yang mengaku demokratis tidak menyelenggarakan pemilu. Secara sederhana demokrasi artinya kedaulatan di tangan rakyat. Kedaulatan itu untuk sebagian dimandatkan kepada pemimpin lewat pemilu. Jadi, kedaulatan itu tidak diserahkan seluruhnya tanpa reserve. Sebab, ketika pemimpin yang diserahi mandat dianggap gagal mengejawantah kedaulatan rakyat, maka rakyat, dengan kedaulatan yang masih dimilikinya bisa menarik kembali mandat itu.

Demokrasi juga menghendaki sirkulasi pemimpin secara damai. Mekanismenya lagi-lagi adalah pemilu. Demokrasi menghindari kekuasaan yang kebablasan. Rezim yang berkuasa terlalu lama dikhawatirkan berbuat semaunya. Rezim lupa bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat dan setiap saat bisa ditarik kembali.

Berikutnya, demokrasi, karena menghindari penyalah-gunaan kekuasaan, abuse of power kata orang pintar, maka diperlukan apa yang disebut dengan check and balance. Karena itu demokrasi mengenal apa yang disebut oposisi, yakni opisisi loyal. Opisisi yang loyal terhadap sistem, oposisi yang mengontrol  kekuasaan tanpa merusak kesepakatan umum.

Begitulah, jika semua itu berjalan dengan pemahaman yang menyeluruh, maka pemilu akan disikapi sebagai rutinitas demokrasi. Sepanjang pemilunya jurdil, penyelenggaranya bisa dipertanggungjawabkan secara moral maupun konstitusi, maka tidak ada alasan untuk tidak menerima hasil pemilu. Bagi yang menang dia mempertanggungjawabkan kemenangannya dengan memenuhi janji politiknya, sedang yang kalah menempatkan diri sebagai oposisi loyal yang mengkritisi jalannya kekuasaan, sembari menyiapkan diri untuk kembali berkontestasi pada pemilu berikutnya.

Akhirnya pemilu sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu hasil resmi dari Komisi Pemilu. Apapun hasilnya, semua pihak mesti menerimanya sepanjang pemilunya berlangsung jurdil, tidak ada kecurangan. Sebab, kecurangan pemilu sama dengan mengkhianati kedaulatan rakyat. Dalam pemilu yang terjadi memang kompetisi merebut kekuasaan, tetapi kekuasaan itu mesti dilihat sebagai sarana bukan tujuan. Dan politik itu lebih dari sekadar urusan “siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana”. (Aga)

 

Comments are closed.