Audiotorial “Desa dan UMKM”

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M-Univeritas Jember), Achmad Subagio, minta Pemkab mengembangkan potensi ekonomi desa yang ditinggalkan mahasiswa KKN. Kata Achmad Subagio, dari informasi yang diserap mahasiswa yang menjalani KKN, gerakan ekonomi di Jember melambat. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian Pemkab terhadap potensi UMKM di desa.

Jika benar demikian, maka catatan pertamanya adalah, UMKM tidak bisa disepelekan. Dia menjadi salah satu penggerak roda perekonomian. Sejatinya daya tahan dan daya lenting UMKM sudah teruji saat negeri ini mengalami krisis berat di penggal kedua 1990-an. UMKM yang kebanyakan berada di sektor informal justru bertahan ketika pelaku ekonomi besar bertumbangan.

Kedua, kehadiran pemerintah, setidaknya sebagai fasilitator diperlukan. Agenda Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang dengan getol memberdayakan toko kelontong bisa dijadikan contoh. Tri Rismaharini melihat toko kelontong milik rakyat kecil kehabisan tenaga karena harus berhadapan dengan toko modern. Pemkot Surabaya lantas hadir dengan mempersatukan mereka dalam sebuah perkumpulan yang disusul kemudian dengan pembentukan koperasi. Pada saat yang sama Pemkot Surabaya memfasilitasinya dengan memberikan pelatihan manajemen, mulai dari penataan outlet hingga pencatatan keuangan.

Begitulah, maka harapan Ketua LP2M Universitas Jember bukan hal yang berlebihan. Banyak yang bisa dilakukan Pemkab dengan misalnya memberikan pendampingan, bahkan pendampingan yang bersangkut-paut dengan kebijakan distribusi dan Alokasi Dana Desa. Percuma, uang menggelontor miliaran rupiah ke desa jika tidak membuat desa dan masyarakatnya berkembang dan berdaya secara ekonomi. (Aga)

 

 

 

Comments are closed.