Pemerintah Belum Miliki Persepsi yang Sama Terkait Pemanfaatan Produk Tanaman Pangan Hasil Rekayasa Genetik

Jember Hari Ini – Pemerintah sebagai regulator pemanfaatan bioteknologi produk rekayasa genetik belum memiliki persepsi yang sama terkait pemanfaatan produk tanaman pangan hasil rekayasa genetik. Hal ini membuat ahli bioteknologi terhambat untuk mengembangkan produk tanaman pangan.

Menurut Ketua Center for Development of Advanced Science and Technology (C-DAST) Universitas Jember, Profesor Bambang Sugiharto, hingga saat ini masih ada kekhawatiran bahaya yang mungkin ditimbulkan hasil tanaman pangan produk rekayasa genetika. Keraguan ini akan tetap muncul selama jaminan keamanan hasil tanaman pangan produk rekayasa genetika belum ada. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005, lembaga yang melepas tanaman produk rekayasa genetika tanpa jaminan keamanan diancam denda minimal Rp 1 miliar maksimal Rp 3 miliar.

Sementara menurut Ketua Pusat Perlindungan Varietas Tanamam dan Perizinan Tanaman Kementerian Pertanian, Profesor Doktor Erizal Jamal, perkembangan bioteknologi di Indonesia sangat pesat. Untuk produk tanaman pangan hasil rekayasa genetika, banyak yang dinilai aman untuk dikonsumsi. Namun khusus benih, Kementerian Pertanian masih menunggu regulasi yang  baru. Karena kementrian pertanian juga memiliki lembaga, untuk menangani persoalan rekayasa genetika. Pemerintah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi peneliti untuk mengakses pengujian mutu agar produk tanaman pangan yang dihasilkan benar-benar aman dikonsumsi. (Hafit)

Comments are closed.