Audiotorial “Festival Literasi Media”

Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan  Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember menyelenggarakan Festival Literasi. Agenda utamanya adalah meliterasi mahasiswa agar bisa memilih dan memilah informasi yang beredar di media sosial. Memilih dan memilah mana informasi yang benar dan mana informasi yang tidak benar. Dari sana, kata Ketua LP3M Universitas Jember, Ahmad Taufik, NKRI bisa dirawat, radikalisme bisa dicegah.

Pernyataan nyaris sama disampaikan Direktur Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bambang Gunawan. Katanya, agenda Festival Literasi adalah edukasi bermedia sosial yang bermuara pada terpeliharanya NKRI.

Memang benar, kemajuan teknologi informasi membawa pada zaman dan situasi yang orang pintar menyebutnya  information superhighway. Zaman informasi super cepat. Cepat produksinya, cepat menyebarnya, luas jangkauannya. Informasi sebuah peristiwa  tersebar ke seluruh penjuru dunia hampir bersamaan dengan peristiwa itu. Sisi baiknya, warga mengetahui lebih cepat informasi sebuah peristiwa dan bisa dengan cepat pula menyikapinya.

Tetapi ada sisi lain yang butuh penyikapan disertai pemahaman memadai. Sebab, tidak semua informasi yang tersebar dan disebar adalah informasi yang benar. Bisa saja ada informasi yang diproduksi untuk membangun opini demi  kepentingan tertentu. Maka, akan lebih baik jika ikhtiar literasi media sosial dilengkapi dengan penegakan aturan terhadap produsen berita bohong yang secara umum populer dengan sebutan hoaks.

Penegakan aturan berarti tidak pandang bulu, tidak tebang pilih. Sebab, ketika politik melulu dipahami sebagai urusan “siapa, mendapat apa, kapan dan bagaimana”, maka bukan tidak mungkin pihak-pihak yang berkepentingan dalam urusan “siapa, mendapat apa, kapan dan bagaimana”  itu sama-sama memproduksi kabar bohong. Masing-masing pihak membantuk pasukan yang secara umum disebut buzzer.

Singkat cerita, literasi media sosial penting. Penting bagi keperluan menyaring, menapis, memilih dan memilah dan kemudian membedakan informasi faktual dari informasi bikinan. Tetapi ikhtiar akan lebih komplit jika dibarengi dengan memerangi mereka yang memproduksi kabar bohong. (Aga)

 

Comments are closed.