Puluhan aktivis Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) cabang Jember, Rabu pagi kembali menggelar unjuk rasa di double way Universitas Jember hingga bundaran DPRD Jember. Mereka mendesak Pemkab Jember segera menuntaskan buta aksara di Kabupaten Jember. Aktivis mahasiswa juga meminta aparat keamanan bertanggungjawab terkait kasus pemukulan 7 aktivis HMI saat aksi demo Hari Pendidikan Nasional lalu.
Menurut korlap aksi, Farid Faisal, sebelumnya Bupati Jember menyatakan, Jember bebas buta aksara. Namun kenyataannya hingga saat ini banyak warga Jember yang masih buta aksara. Bahkan, Kabupaten Jember menempati rangking tertinggi penyandang buta aksara di Jawa Timur.
Sementara Sekretaris Dinas Pendidikan Jember, Subadri Habib menjelaskan, selama di Sekolah Dasar masih ada yang drop out, maka angka buta aksara tetap tinggi. Menurut Subadri, awalnya pemberantasan buta aksara diperuntukkan warga usia antara 15 hingga 45 tahun. Namun, di tahun 2014 ada perubahan standar kebijakan, sehingga pemberantasan buta aksara dilakukan untuk warga hingga usia 60 tahun. Kebijakan ini menyebabkan angka buta aksara bertambah. Hal itu dikarenakan Dinas Pendidikan belum melakukan pemberantasan buta aksara untuk warga yang berumur 46 hingga 60 tahun.
Sementara Ketua Komisi D DPRD Jember, Ayub Junaidi menyambut baik tuntutan mahasiswa, terkait pengentasan buta aksara di Jember. DPRD Jember sudah menyetujui anggaran pemberantasan buta aksara di Kabupaten Jember. Ayub mengaku tidak terlalu yakin dengan penghargaan yang diterima Pemkab Jember terkait penuntasan buta aksara. (Hafit)

