Audiotorial “Pengadaan Alkes: Antara Berpikir Visi dan Proyek”

newsAndai tidak ada hambatan RSUD dokter Subandi sudah punya alat kesehatan atau alkes yang disebut Cath Lab. Kalau tidak keliru Cath Lab adalah layanan yang diperuntukan bagi pasien dengan gangguan jantung. Layanan ini meliputi penentuan diagnosa dan penanganan atau tindakan problem jantung serta  pembuluh darah.

Kalau RSUD Dokter Soebandi punya piranti semacam itu, maka rumah sakit ini diyakini bisa menjadi rumah sakit rujukan di Jawa Timur bagian Timur. Tetapi BPKP rupanya, karena menyangkut tertib administrasi anggaran, merekomendasikan agar tender ditinjau kembali. Maka pihak rumah sakit pun kabarnya juga sudah membatalkan tender, bahkan kontrak kerjasama juga dibatalkan.

Begitulah, lebih baik memang meninjau kembali setiap proyek pengadaan yang berpotensi menimbulkan masalah di kelak kemudian hari. Pengadaan barang di satuan kerja manapun idealnya memang harus berorientasi visi, bukan berorientasi proyek. Tentu saja visi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Sebab, pengadaan barang yang berorientasi proyek berpotensi melahirkan pikiran-pikiran manipulatif. Tujuannya bukan mencapai target dengan output dan outcome atau keluaran dan dampak  yang diharapkan, melainkan mencari keuntungan pribadi dan kroni.

Karena itu, langkah dan keputusan RSUD Dokter Soebandi menuruti dan memenuhi rekomendasi BPKP patut diapresiasi. Manajemen RSUD Dokter Soebandi pastilah jauh-jauh hari sudah menentukan dan menetapkan visi dan misi. Visinya kira-kira menjadi rumah sakit rujukan dengan kualitas layanan prima. Rumah sakit rujukan bukan cuma di Jawa Timur bagian Timur. Lebih dari itu, menjadi salah satu rumah sakit rujukan di Indonesia bagian Timur.

Visi setinggi itu, hanya bisa dicapai dengan menekan resiko yang muncul dari setiap keputusan, yang oleh karena itu pula rumah sakit ini pasti menerapkan manajemen resiko. Bukan cuma resiko penanganan dan tindakan terhadap pasien, tetapi resiko dari keseluruhan pelaksanaan manajemen.

Sekali lagi, setiap pengadaan barang di satuan kerja manapun di jajaran pemerintah Kabupaten Jember, mestinya berorientasi visi dan misi, bukan proyek. Sebab, jika berorientasi proyek, maka yang pertama kali muncul adalah pikiran manipupatif. Orang lebih sibuk menghitung berapa besar fee yang bisa didapat dari proyek itu, yang kalau dirasa kurang lantas mencoba mengutak-atik angka. Dan ujungnya apalagi namanya kalau bukan mark up alias penggelembungan anggaran.

(Aga)

 

 

 

 

 

Comments are closed.