Rekor itu bermacam-macam. Tetapi rekor lazimnya lekat dengan atribut “paling” dan “ter”, seperti paling banyak atau terbanyak; paling tinggi atau tertinggi dan; paling besar atau terbesar. Ada yang atribut paling atau ter-nya sekadar kuantitas, ada juga yang atribut paling dan ter-nya menyangkut kualitas. Ada pula menyangkut dua-duanya, kuantitas dan kualitas.
Rekor membuat siapa saja setidaknya menjadi populer. Apalagi di era teknologi informasi seperti sekarang. Kabar dan berita cepat menyebar. Tetapi selain popularitas, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Jember, Pak Ahmad Bunyamin, sangat merekomendasikan kegiatan yang dirancang untuk memecahkan rekor berdampak terhadap ekonomi daerah. Selain itu, kata Pak Bunyamin, mesti ada nilai tambah misalnya berupa pengenalan potens budaya lokal. Pak Bunyamin lantas menunjuk Banyuwangi dengan tarian kolosal “seribu gandrung” sebagai contoh.
Idealnya memang begitu, kalau Banyuwangi dijadikan contoh, maka suguhan seribu gandrung bisa diduga untuk membangun kesan Banyuwangi sebagai kota budaya yang bisa diperhitungkan sebagai salah satu potensi kewisataan. Kalau tidak keliru Banyuwangi sudah lumayan lama menawarkan apa yang disebut etnotourism.
Begitulah, rekomendasi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Jember, Pak Ahmad Bunyamin, mesti dilihat sebagai rekomendasi yang lebih dari patut untuk dipertimbangkan. Kalau boleh menduga, penciptaan rekor apapun harus berdampak terhadap daerah dan masyarakatnya. Bukan cuma dampak terhadap kehidupan ekonomi, tetapi juga terhadap potensi yang dimiliki daerah. Potensi itu bisa kekayaan budaya, pesona alam dan beberapa potensi unik yang lain.
Pak Ahmad Bunyamin, secara tersirat juga merekomendasikan pencatatan rekor hendaknya berdampak secara berkelanjutan. Jadi, kalau misalnya Jember mencatatkan rekor suwar-suwir terpanjang di Indonesia bahkan dunia, maka selain Jember populer, suwar-suwir dikenal lebih luas, petani singkongnya jadi untung, produsen suwar-suwir makin banyak pesanan, pelancongnya juga tambah banyak, yang belanja suwar-suwir pun begitu juga, tambah banyak. Bukan sebaliknya, setelah rekor berhasil dicapai, kegiatan itu bukan hanya tidak berdampak, tetapi dalam tempo singkat kegiatan itu seperti menguap begitu saja, tak berbekas. (Aga)
