Ada kabar garam langka di pasaran. Kalau ada, harganya naik hampir lipat dua. Garam kemasan 250 gram yang tadinya Rp 1.500 naik menjadi Rp 2.500. Belum diketahui apa penyebabnya. Bisa jadi produksi menurun dan pada waktu yang sama kebutuhan naik.
Kebutuhan garam konsumsi di Indonesia mencapai 400 ribu ton setahun. Sedang kebutuhan industri mencapai 300 juta ton per tahun. Yang kebutuhan konsumsi bisa dipenuhi secara swasembada, sedang untuk kebutuhan industri masih harus impor, kalau tidak keliru dari Inggris dan India.
Begitulah, soal garam saja ternyata negeri ini masih bermasalah. Padahal, dua per tiga teritori atau wilayah Indonesia adalah lautan. Pantainya terpanjang kedua di dunia. Panjangnya mencapai 100 ribu Kilometer.
Ternyata bukan cuma garam yang masih harus impor. Negeri yang katanya tongkat kayu dan batu jadi tanaman ini juga masih mengimpor singkong. Bisa jadi singkong yang diimpor untuk kebutuhan industri. Data terakhir impor singkong mencapai 1.200 ton. Kalau mau dicatat, masih banyak komoditi yang negeri ini masih harus impor. Bawang putih impor, beras pernah impor, gula impor, daging ternak impor.
Tidak banyak yang bisa disampaikan, kecuali harapan akan kesungguhan penentu kebijakan bahwa kondisi seperti itu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Indonesia adalah negeri dengan Sumber Daya Alam yang melimpah. Perut bumi Indonesia meyimpan gas alam, batu bara dan sumber energi lainnya. Lahan pertaniannya juga hampir tidak ada yang membandingi dan menandinginya.
Akhirnya, bisa jadi kelangkaan garam dilihat dan dijadikan ukuran. Kalau negeri dengan pantai terpanjang kedua di dunia ini mengalami kelangkaan dan harus impor garam, bagaimana dengan urusan yang lebih rumit. (Aga)

