Dinas Pendidikan dikabarkan baru saja minta data pembanding GTT dari PGRI. Padahal sekarang sudah menjelang akhir tahun. Karena itu, Ketua PGRI Jember, pak Supriyono, mengaku heran. Sebab, katanya, surat menyurat antara Dinas Pendidikan dan PGRI yang berisi permintaan data pembanding berlangsung November. Pak Supriyono lantas berharap, permintaan Dinas Pendidikan bukan sekadar formalitas.
Mungkin yang dimaksud pak Supriyono adalah permintaan akan data pembanding bukan sekadar pemanis bibir untuk mengesankan Dinas Pendidikan mulai serius mengurus GTT. Andai benar seperti itu, Pak Supriyono tidak bisa disalahkan. Pak Supriyono tentu berangkat dari pengalaman yang sudah-sudah. Persoalan GTT sudah lama muncul. Saat menyampaikan aspirasinya PGRI menyodorkan beberapa daerah yang urusan GTT-nya sudah beres sebagai contoh. Tetapi, sebegitu jauh belum ada respon dan tindak lanjut dari Dinas Pendidikan.
Begitulah, memang benar, tidak ada harapan lain kecuali keinginan untuk melihat kesungguhan Dinas Pendidikan menindak lanjuti urusan GTT yang hingga hari ini belum bisa terima honor dari BOS. Tidak ada harapan lain kecuali terbitnya surat penugasan bagi GTT, karena surat itu menjadi syarat mutlak dan menjadi dasar pemberian honor bagi GTT. Pendek kata, GTT tidak lagi dalam keadaan harap-harap cemas. Benaknya dipenuhi pertanyaan besar tentang bisa tidaknya mereka terima honor.
Pada saat yang sama, KONI Jember dikabarkan juga dalam posisi menunggu pencairan dana APBD. Ada yang bilang pencairan dana hibah sebesar RP 2,1 miliar itu tinggal menunggu teken Bupati. Harapannya pasti sama, Bupati segera menandatanganinya sehingga KONI bisa bernafas sedikit lega. Sebab, kata Ketua KONI Jember pak Ahmad Halim, demi kelangsungan pembinaan dan terselenggaranya kegiatan pengurus harus merogoh kantong pribadi. Pak Ahmad Halim, juga mengungkankan semua persyaratan dan kelengkapan sudah dipenuhi. KONI, kata pak Halim lagi, juga legawa anggarannya dipangkas dari sekitar Rp 4 miliar menjadi Rp 2,1 miliar.
Harapan KONI bisa dipastikan sama dengan harapan Guru Tidak Tetap (GTT), keduanya sama-sama berharap Bupati segera mengambil keputusan yang dengan keputusan itu GTT bisa terima honor, KONI bisa mencairkan anggaran untuk keperluan pembinaan dan peningkatkan prestasi di bidang olahraga.
Lebih dari semua itu, bukan tidak mungkin kejadian yang menimpa GTT dan KONI membuat publik berpikir dan bertanya: “Ini terlambat atau menghambat…?”.(Aga)
