Jember Hari Ini – Kementerian Pertanian melalui Bulog berencana melakukan impor beras sebanyak 500 ribu ton dari sejumlah negara, seperti Thailand, Vietnam, dan Myanmar. Impor tersebut dilakukan agar Indonesia memiliki stok beras sebanyak 1,2 juta ton hingga akhir 2022. Kini impor beras tinggal menunggu keputusan dari pemerintah pusat ditengah rendahnya pasokan yang diterima Bulog.
Kabar tersebut membuat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember khawatir. Bila pemerintah melakukan impor beras, maka harga gabah di tingkat petani dikhawatirkan akan anjlok.
Ketua Badan Pertimbangan Organisasi HKTI Jember, Jumantoro, kepada Prosalina FM mengatakan, saat ini petani di kawasan Jember sudah memasuki masa tanam padi. Panen padi diperkirakan akan berlangsung mulai bulan Februari hingga akhir Maret 2023. Bila kebijakan impor disetujui, maka saat panen raya harga gabah berpotensi akan anjlok.
Saat ini, lanjut Jumantoro, harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani mencapai Rp5.300 per kilogram. Harga tersebut terbilang cukup tinggi di kalangan petani. Sementara harga terendah yang pernah petani Jember rasakan yakni Rp3.800 per kilogram. Sementara harga aman agar petani tidak merugi, kata Jumantoro, setidaknya Rp4.500 rupiah. Jika dibawah itu, maka petani akan merugi. Apalagi, saat ini pupuk semakin mahal dan sulit sehingga membuat ongkos produksi juga meningkat.
Pria yang juga menjadi Ketua Asosiasi Petani Pangan Jawa Timur ini kembali berharap agar pemerintah tidak melakukan impor beras. Selain berpotensi harga gabah terjun bebas, kebijakan impor juga akan membuat pengusaha lokal tidak berani menyerap gabah petani secara maksimal. Sebab, pasar sudah digelontor dengan beras impor.
Saat ini, standar harga gabah yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp4.200 per kilogram dinilai juga belum menguntungkan petani. Setidaknya, dengan kondisi terbatasnya pupuk dan harga produksi tinggi, harga gabah agar petani untung minimal Rp4.500 hingga Rp5.000 per kilogram. (Ulil)

