Dosen Psikologi Unmuh Jember Sebut Fenomena Sound Horeg Butuh Regulasi Tegas

Dosen Psikologi Unmuh Jember, Danan Satriyo Wibowo.

Jember Hari Ini – Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Danan Satriyo Wibowo, memandang fenomena sound horeg bukan hanya soal suara yang memekakkan telinga atau aksi berjoget di jalanan. Menurutnya, ini adalah bentuk ekspresi yang jauh lebih kompleks, menyentuh aspek identitas, interaksi sosial, hingga modifikasi budaya lokal.

Menjelang Agustus 2025, suara dentuman khas sound horeg kembali terdengar ramai di jalan-jalan, dari desa sampai kota. Ini menjadi pertanda bahwa budaya tersebut kembali hadir mengiringi euforia masyarakat menyambut hari kemerdekaan.

Danan menjelaskan, jika dilihat dari sisi psikologi, sound horeg bisa dimaknai dalam tiga aspek: sebagai bentuk ekspresi identitas, sebagai ruang interaksi sosial, dan sebagai bagian dari nilai-nilai budaya lokal yang terus berkembang.

Bagi masyarakat, ini bukan fenomena baru. Setiap momen Agustusan, iring-iringan mobil pickup dengan sound system sudah menjadi pemandangan umum. Namun kini, tampilannya makin megah, dilengkapi lampu-lampu mencolok, remix lagu yang ekstrem, hingga kontes adu kekuatan suara antar komunitas, dikenal sebagai battle sound.

Tidak lagi terbatas pada perayaan kemerdekaan, sound horeg kini merambah ke banyak momen lain: dari pelepasan jemaah umrah, pernikahan, hingga prosesi duka.

Menurut Danan, kuatnya dukungan masyarakat terhadap fenomena ini membuat komunitas pecinta sound horeg makin solid. Lebih dari sekadar gaya hidup atau hobi, ini menjadi identitas bersama. Bahkan, seseorang yang awalnya tak menyukai, lama-lama bisa ikut larut karena pengaruh norma dan tekanan sosial dari kelompok sekitarnya.

Namun begitu, tidak semua orang menyambutnya dengan positif. Suara yang terlalu keras hingga mengguncang kaca rumah dan bahkan menyebabkan kerusakan fisik, menjadi sumber keluhan. Banyak yang mengeluhkan polusi suara, terlebih bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan seperti jantung, situasi ini bisa membahayakan. Maka dibutuhkan adanya regulasi tegas.

Dibalik semua itu, dia menilai, ada sisi ekonomi dan kreativitas yang ikut tumbuh. Danan menyebut, dalam praktiknya, satu paket sound horeg bisa disewakan dengan tarif hingga puluhan juta rupiah membuka peluang bagi pelaku usaha di bidang hiburan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tanpa regulasi yang jelas, fenomena ini bisa menjadi pemicu konflik horizontal ditengah masyarakat. Jika dibiarkan tanpa kontrol, sound horeg bukan hanya berisik, tapi bisa jadi bumerang sosial.

Karena itu, menurutnya perlu dibuat aturan yang tegas dan bijak, soal batas volume, waktu penyelenggaraan, hingga lokasi penggunaannya, agar budaya ini tetap hidup namun tidak merugikan orang lain. (Ulil)

Comments are closed.