
Jember Hari Ini – Guru Besar Universitas Islam Malang, Prof. Dr. Masykuri Bakri, menegaskan pentingnya moderasi beragama sebagai kunci utama dalam menghadapi tantangan global. Hal itu disampaikannya dalam acara sarasehan ulama dan akademisi di Kampus Universitas Islam Negeri KH. Ahmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember, Kamis (06/11/2025).
Dalam paparannya, Masykuri menjelaskan bahwa konsep moderasi beragama telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sejak masa piagam Madinah yang disebutnya sebagai konstitusi pertama di dunia. Melalui piagam tersebut, nabi berhasil mempersatukan berbagai kelompok dengan latar belakang suku, agama, bahasa, dan budaya yang berbeda.
Namun, berdasarkan hasil risetnya, mantan Rektor Unisma itu mengungkapkan kekhawatiran terhadap munculnya kelompok-kelompok Islam transnasional yang berpaham radikal dan telah menyebar di Indonesia.
Masykuri menegaskan bahwa lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama. Ia mengingatkan agar dunia pendidikan mewaspadai upaya kelompok radikal yang menyasar generasi muda, termasuk mereka yang berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU).
Ia juga mendorong kerja sama antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat untuk menanamkan semangat moderasi serta mencegah penyebaran ideologi ekstrem.
Senada dengan itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, mengapresiasi lahirnya para pemikir moderasi beragama dari Jember. Ia menyebut diantaranya KH. Mahfudz Siddiq dan KH. Ahmad Shiddiq, tokoh penting NU yang pemikirannya turut memperkuat konsep asas tunggal Pancasila.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh ulama dan akademisi, diantaranya KH. Muhyiddin Abdusshomad (Rois Syuriah PCNU Jember), KH. Rosyidi Baihaqi (Pengasuh Ponpes Sumber Taman Glagahwero Kalisat), dan KH. Sadid Jauhari (Pengasuh Ponpes Kencong).
Para tokoh tersebut sepakat bahwa moderasi beragama adalah fondasi penting untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang harmonis, damai, dan sejahtera. (Hafit)
