Akademisi Unmuh Soroti Lemahnya Perhatian Sanitasi Pasca Bencana di Indonesia

Dr. Latifa Mirzatika Al-Rosyid.

Jember Hari Ini – Hingga Minggu (30/11/2025), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, banjir bandang yang terjadi di sejumlah daerah di Sumatera telah mengakibatkan 442 orang meninggal dunia dan 402 orang masih hilang.

Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember Dr. Latifa Mirzatika Al-Rosyid, menilai, fase pasca bencana adalah masa paling kritis karena kualitas air bersih biasanya menurun drastis.

Seperti diketahui, selain merusak permukiman dan infrastruktur, banjir besar di Sumatera juga berdampak langsung pada kualitas air sungai dan sumur warga. Air banjir membawa lumpur, limbah domestik, limbah pertanian, hingga Overflow Septic Tank yang mencemari sumur dangkal.

Kontaminasi ini meningkatkan risiko penyakit berbasis air seperti diare, kolera, disentri, leptospirosis, hingga penyakit berbasis vektor akibat genangan seperti demam berdarah.

Dalam penanganan banjir di Indonesia, Latifa menilai terdapat banyak aspek penting yang sering luput. Ia menyebut minimnya pendekatan terpadu dari hulu hingga hilir, lemahnya tata ruang berbasis risiko, kurangnya penggunaan solusi ekologis seperti ekosistem rawa buatan (Wetland) dan sumur resapan besar, serta lemahnya pengelolaan data hidrometeorologi.

Selain itu, sanitasi pasca bencana jarang menjadi prioritas meskipun dampaknya sangat besar terhadap kesehatan masyarakat. Ia menekankan perlunya keterlibatan akademisi sejak tahap perencanaan, bukan setelah bencana terjadi.

Terkait langkah darurat setelah banjir surut, Latifa menekankan pentingnya pemulihan sumber air bersih melalui klorinasi sumur, penggunaan sementara air dari pdam, serta pembersihan lumpur dan sedimen yang membawa kontaminan. Pembersihan fasilitas umum, pengelolaan sampah pasca bencana, dan perbaikan drainase menjadi langkah krusial sebelum masyarakat kembali beraktivitas normal.  

Sebagai strategi jangka panjang, ia mendorong penerapan rekayasa lingkungan berbasis das dan integrasi antara solusi teknis dengan solusi ekologis. Rehabilitasi hutan, restorasi vegetasi riparian, pembangunan kolam retensi, Wetland buatan, serta modernisasi drainase berbasis analisis hidrologi menjadi langkah penting untuk mencegah banjir serupa di masa depan. Desain infrastruktur juga harus menyesuaikan kondisi iklim masa kini yang jauh lebih ekstrem dibanding 10–20 tahun lalu.

Berbagai pandangan tersebut menegaskan bahwa banjir besar Sumatera bukan sekadar kejadian sesaat, melainkan sinyal kuat bahwa kerusakan lingkungan nasional telah mencapai titik kritis. (Ulil)

Comments are closed.