Banjir Rendam Ribuan Rumah, Pakar Teknik SDA Unmuh Jember Soroti Alih Fungsi Lahan

Dr. Nanang Saiful Rizal.

Jember Hari Ini – Pakar Teknik Sumber Daya Air Universitas Muhammadiyah Jember, Prof. Dr. Nanang Saiful Rizal, merespons meluapnya sejumlah sungai yang menyebabkan ribuan rumah di Jember terendam, tidak terlepas dari perubahan iklim global yang diperparah oleh kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS).

Hal ini disampaikan Nanang melalui Talkshow yang digelar Prosalina, pada Sabtu (02/12/2025). Menurut Prof. Nanang, perubahan iklim terjadi salah satunya akibat menurunnya kemampuan alam dalam menyerap karbon, seiring semakin berkurangnya tutupan hutan. Karbon yang tidak terserap oleh daun, batang, dan akar tanaman akan bergerak ke laut. Suhu laut yang meningkat memicu evaporasi tinggi dan berpotensi menimbulkan badai siklon. Dampaknya, hujan yang turun menjadi tidak normal, dengan intensitas tinggi dan durasi lebih lama.

Kondisi ideal seharusnya hujan banyak terjadi di kawasan hutan. Namun, berkurangnya tutupan hutan menyebabkan pola hujan berubah dan kerap turun di luar perkiraan.

Selain faktor iklim, nanang menyoroti persoalan pelanggaran sempadan sungai sebagai penyebab banjir. Berdasarkan aturan, sungai memiliki ruang sempadan yang harus bebas dari bangunan agar air dapat mengalir dengan baik.

Ia juga mengungkapkan bahwa banyak sungai di Jember mengalami pendangkalan akibat sedimentasi. Kondisi ini dipicu oleh menurunnya daya resap tanah akibat alih fungsi lahan, sehingga air hujan lebih banyak mengalir di permukaan dan membawa material tanah ke sungai.

Dia juga menyoroti maraknya pembangunan perumahan di Jember yang belum sepenuhnya memperhatikan aspek konservasi air. Padahal, menurutnya, konsep Zero Run Off harus diterapkan agar air hujan tidak langsung dibuang ke sungai.

Menurutnya, kawasan perumahan seharusnya menyerap air hujan melalui sumur resapan, kolam tampung, atau danau kecil. Air habis di kawasan itu, bukan dialirkan ke tempat lain.

Ia menegaskan, indikator utama kerusakan lingkungan justru terlihat saat musim kemarau. Banyak sungai di Jember yang mengering, menandakan fungsi tangkapan air di hulu sudah terganggu.  

Lebih lanjut, Prof. Nanang menyebut sejumlah DAS di Jember, seperti DAS Mayang, DAS Bedadung, dan DAS Bondoyudo, telah masuk kategori kritis sejak lebih dari 15 tahun lalu. Meski upaya konservasi telah dilakukan, hasilnya dinilai belum maksimal dan diperparah oleh alih fungsi hutan produksi menjadi tanaman semusim.

Ia menegaskan, tanpa langkah mitigasi serius, bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang akan terus berulang di Jember. (AJA-Ulil)

Comments are closed.