
Jember Hari Ini – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Justitia Unmuh Jember bersama sejumlah elemen menggelar diskusi bedah buku Reset Indonesia. Melalui diskusi tersebut, salah satu penulis buku Reset Indonesia, Farid Gaban, memberikan sejumlah pengalaman di banyak daerah, terutama terkait kondisi negeri ini.
Buku Reset Indonesia ditulis berdasarkan pengalaman para penulisnya, Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu usai keliling Indonesia. Mereka merupakan lintas generasi mulai dari generasi Baby Boomers, Gen X, Gen Y (Millenial) dan Gen Z.
Farid mengatakan, para penulis telah melakukan perjalanan keliling Indonesia untuk mengunjungi sejumlah kawasan yang potensial berbasis kearifan lokal, hingga berbagai konflik yang menindas masyarakat di banyak daerah, terkait tambang, konflik agraria hingga proyek strategis nasional pemerintah. Beberapa hasil ekspedisi tersebut juga terangkum dalam banyak video dokumenter.
Berbagai ekspedisi tersebut antara lain Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009-2010), Ekspedisi Indonesia Biru (2015-2016) dan Ekspedisi Indonesia Baru (2022-2023).
Buku Reset Indonesia mengajak berbagai pihak untuk bergandengan tangan bagaimana mengenal lebih luas kondisi Indonesia, dan muncul harapan-harapan baru untuk memperbaiki Negeri ini. Berbagai peristiwa yang belakangan terjadi, mulai dari banjir bandang di Sumatra hingga konflik di Papua juga relevan menjadi kajian buku tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, Farid mencontohkan, dalam banyak kasus, konflik yang berakar pada tambang hingga perkebunan sawit, seringkali menempatkan perlakuan represif dari Negara.
Diskusi ini berlangsung lancar dengan diikuti oleh lintas generasi dari berbagai komunitas seperti aktivis NGO, jurnalis, akademisi dan mahasiswa.
Farid mengatakan, Jember merupakan kota yang ke-51, mengadakan diskusi buku reset Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, Farid menyampaikan bahwa untuk memperbaiki Indonesia, berdasarkan pengalamannya yang telah keliling Indonesia selama 16 tahun, kondisi Indonesia perlu direset total, bukan hanya direstart. (Ulil)
