{"id":57122,"date":"2026-05-16T22:11:17","date_gmt":"2026-05-16T15:11:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/?p=57122"},"modified":"2026-05-21T22:24:21","modified_gmt":"2026-05-21T15:24:21","slug":"jelang-pembatasan-tpa-pakusari-jember-pegiat-lingkungan-soroti-kesiapan-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/?p=57122","title":{"rendered":"Jelang Pembatasan TPA Pakusari Jember, Pegiat Lingkungan Soroti Kesiapan Masyarakat"},"content":{"rendered":"<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><a href=\"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-16-at-10.27.22-AM.jpeg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-16-at-10.27.22-AM-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-57123\" style=\"width:500px\" srcset=\"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-16-at-10.27.22-AM-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/www.prosalinaradio.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-16-at-10.27.22-AM-300x225.jpeg 300w, https:\/\/www.prosalinaradio.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-16-at-10.27.22-AM-768x576.jpeg 768w, https:\/\/www.prosalinaradio.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-16-at-10.27.22-AM-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/www.prosalinaradio.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-16-at-10.27.22-AM.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>RM Masbut<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p><strong>Jember Hari Ini &#8211; <\/strong>Pegiat lingkungan hidup, RM Masbut, menilai Kabupaten Jember sudah cukup lama berada dalam kondisi darurat sampah. Hal itu disampaikan dalam Talkshow Radio Prosalina tentang Langkah Pengelolaan Sampah Jelang Pembatasan TPA Pakusari\u201d, Sabtu (16\/05\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Masbut, produksi sampah di Jember setiap hari mencapai sekitar 1.300 ton. Angka tersebut dihitung dari rata-rata produksi sampah per orang sekitar 0,5 kilogram per hari dengan jumlah penduduk Jember mencapai sekitar 2,6 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, dari total timbulan sampah tersebut, pengelolaannya baru mampu menjangkau sekitar 19 persen. Sebagian besar sampah masih langsung dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Padahal TPA seharusnya hanya menerima sampah residu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menjelaskan, di Kabupaten Jember sebenarnya terdapat lima TPA. Namun, satu TPA di Nogosari, Balung, telah ditutup masyarakat sejak 2020 akibat penolakan warga terhadap pengelolaan sampah di lokasi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Masbut menegaskan, aturan pembatasan sampah ke TPA sebenarnya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam regulasi tersebut, TPA hanya diperuntukkan bagi sampah residu, sementara sampah yang masih dapat didaur ulang seharusnya dikelola mandiri oleh masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah serta lambatnya regulasi daerah. Menurutnya, Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah baru diterbitkan pada 2023 dan hingga kini belum dilengkapi Peraturan Bupati yang mengatur teknis pengelolaan secara sistematis.<\/p>\n\n\n\n<p>Jember juga masih mendapat pembinaan dari Kementerian Lingkungan Hidup karena dinilai belum menerapkan pengelolaan sampah sesuai aturan.<\/p>\n\n\n\n<p>Masbut menyebut nilai pengelolaan sampah Kabupaten Jember mengalami penurunan drastis. Pada 2023, nilai pengelolaan sampah Jember mencapai 66, sementara pada 2025 turun menjadi 33,4 dan berada di peringkat bawah nasional dalam kategori daerah pembinaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkait pembatasan TPA Pakusari yang mulai ramai dibicarakan masyarakat dan dijadwalkan berlaku mulai Juni 2026, Masbut mengatakan kebijakan tersebut sebenarnya sudah mulai diterapkan, khususnya di sektor usaha.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, masyarakat masih belum siap menghadapi pembatasan tersebut karena belum memahami klasifikasi sampah, termasuk perbedaan antara sampah residu dan sampah yang dapat didaur ulang.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, ia menilai pembatasan sampah ke TPA memang perlu dilakukan untuk mencegah pencemaran lingkungan yang semakin parah di sekitar TPA Pakusari.<\/p>\n\n\n\n<p>Masbut menyebut sistem pengelolaan di tpa pakusari saat ini masih open dumping dan perlu ditingkatkan minimal menjadi controlled landfill. Meski demikian, menurutnya sistem yang paling ideal sesuai aturan adalah sanitary landfill.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sistem sanitary landfill, sampah dikelola dengan baik, air lindi dijernihkan dan timbunan sampah ditutup rutin sehingga tidak mencemari lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga menyoroti dampak lingkungan yang dirasakan warga sekitar TPA Pakusari, termasuk petani yang mengeluhkan pencemaran saluran irigasi akibat limpasan sampah saat hujan turun.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini, kata Masbut, tumpukan sampah di TPA Pakusari diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 35 meter. Dari sekitar 190 ton sampah yang masuk setiap hari, pemulung hanya mampu mengurangi sekitar satu ton per hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Selebihnya tetap menumpuk. Saat hujan, limbahnya meluber ke saluran irigasi dan mencemari sawah warga. <strong>(AJA-Ulil)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jember Hari Ini &#8211; Pegiat lingkungan hidup, RM Masbut, menilai Kabupaten Jember sudah cukup lama berada dalam kondisi darurat sampah. Hal itu disampaikan dalam Talkshow Radio Prosalina tentang Langkah Pengelolaan&#8230; <a class=\"meta-more\" href=\"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/?p=57122\"><span class=\"meta-nav\"><\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":57123,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,10],"tags":[],"class_list":["post-57122","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-sosial-budaya","junkie_custom_tags-junkie_featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/57122","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=57122"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/57122\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57124,"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/57122\/revisions\/57124"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/57123"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=57122"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=57122"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.prosalinaradio.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=57122"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}