Audiotorial “Pita Kejut”

PEMBONGKARAN PITA KEJUT

Bupati dan Wabup Jember saat membongkar pita kejut di sekitar Alun-Alun Kota Jember.

Dinas Perhubungan membongkar pita kejut di sekitar Alun-Alun. Pertimbangannya katanya lantaran banyak warga pengguna jalan yang mengeluhkannya. Untuk sementara yang dibongkar adalah pita kejut di depan pendopo dan kemudian diikuti di beberapa titik yang dianggap tidak memerlukan pita kejut.

Dulu ketika pertama kali dipasang memang banyak warga yang berkomentar. Komentarnya pro-kotra. Seperti biasa, setiap ada hal baru bisa dipastikan akan memunculkan reaksi. Mungkin karena begitu banyaknya sampai-sampai Jember disebut dan dijuluki “Kota Seribu Pita Kejut”.

Pemasangan pita kejut tentu sudah melalui serangkaian proses kajian, tidak ujug-ujug. Tujuannya, untuk membiasakan perilaku tertib berlalu lintas, menekan angka kecelakaan dan balap liar. Singkat cerita, Jember belum lama berselang berhasil meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN). Pita kejut memang bukan satu-satunya yang dinilai, tetapi dari sekian aspek seperti kelengkapan rambu, marka jalan dan sebagainya, pita kejut tentu termasuk yang dinilai tim WTN.

Maka seperti saat memasang, pembongkaran pita kejut sebaiknya juga melewati serangkaian kajian mendalam. Alun-Alun hampir setiap malam menjadi pusat kerumunan warga. Itu sebabnya, mengapa pita kejut dipasang di sana. Tujuannya bisa ditebak, agar pengendara tidak melaju dengan kecepatan tinggi.

Begitulah, kalau dulu pita kejut tidak asal pasang, maka sekarang hendaknya juga tidak asal bongkar. Di sisi yang lain, kita juga tidak boleh alergi terhadap kajian yang lebih mutakhir. Jika hasil kajian mutakhir merekomendasikan pembongkaran, karena taruh misalnya membahayakan pengendara, maka pembongkaran pita kejut hendaknya juga tidak direaksi berlebihan. Apalagi dikaitkan dengan sentimen terhadap simbol lama. (Aga)

 

 

 

Comments are closed.