Jember Hari Ini – Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) mendesak Pemkab Jember menyiapkan Kabupaten Jember menjadi kabupaten inklusi, sehingga lebih ramah kepada komunitas difabel.
Hal ini dituturkan Direktur Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA), Nurul Saadah Andriani, dalam acara workshop SKPD dan stake holder untuk mewujudkan Jember kota ramah difabel di hotel di Jalan Sentot Prawirodirjo, Selasa pagi.
Menurut Nurul, banyak organisasi difabel di Jember yang sudah melakukan advokasi bertahun-tahun untuk mewujudkan kabupaten inklusi. Pemkab Jember harus bisa memfasilitasi apa yang selama ini mereka suarakan oleh para difabel. Terutama kesetaraan dalam bidang pendidikan, kesehatan serta layanan publik. Selian itu, Pemkab Jember juga harus melakukan sosialisasi agar masyarakat bisa menerima para difabel.
Koordinator lapangan program peduli disabilitas dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Hari Jurniawan, menegaskan, Pemkab Jember hingga saat ini masih belum berpihak pada kaum difabel. Terutama pembangunan trotoar dan layanan publik yang tidak bisa diakses oleh para difabel. Sementara pelayanan administratif, hingga saat ini belum ada yang aksesibel. Kaum difabel selalu mengalami kesulitan mengurus KK, KTP maupun akta kelahiran.
Sayangnya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan hingga saat ini belum bisa menghimpun data yang jelas jumlah difabel di Kabupaten Jember. Hingga saat ini data yang berhasil divalidasi baru ada di 4 desa, yakni Desa Biting, Arjasa, Tegalsari, dan Kedawung. (Hana)

