Audiotorial “Bandara Embarkasi Haji”

BANDARA-NOTOHADINEGORO

Bandara Notohadinegoro

Menjadikan Bandara Notohadinegoro sebagai bandara embarkasi dan debarkasi haji adalah impian dan hal-hal besar memang harus berangkat dari mimpi. Begitulah, gagasan menjadikan Bandara Notohadinegoro sebagai bandara embarkasi dan debarkasi haji dikupas tuntas dalam forum dialog publik. Para pemangku kepentingan hadir dalam forum itu.

Sekali lagi, hal-hal besar berangkatnya memang dari sebuah mimpi. Orang yang tidak punya impian akan dikatakan orang yang tidak punya harapan. Dan orang yang tidak punya harapan, tidak punya asa dianggap sebagai orang yang tidak berdaya.

Tetapi impian bukan berarti tidak menginjak bumi. Mimpi itu harus dirumuskan ke dalam narasi yang disebut visi. Visi itu lalu menjadi misi, dan misi menjadi rencana aksi. Ini artinya mimpi saja tidaklah cukup. Mimpi itu harus didokumentasikan ke dalam konsep yang operasional. Mimpi itu sendiri juga mesti realistis. Jika tidak bisa dicapai hari ini, maka impian itu dirumuskan ke dalam perencanaan yang terstruktur agar dalam kurun waktu tertentu bisa diwujudkan.

Itu pula kesimpulan diskusi publik kupas tuntas menjadikan Bandara Notohadinegoro sebagai bandar embarkasi dan debarkasi haji. Forum sampai pada kesimpulan impian besar itu patut dihargai. Tetapi, pada saat yang sama, komunikasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan mesti dimantapkan. Orang pintar menyebutnya konsolidasi, karena dari forum itu muncul kesan kesepahaman antar satuan kerja belum terbangun. Suasana kebatinannya malah mengarah pada posisi antar satuan kerja yang saling berhadapan.

Bandara, apapun tipenya adalah sebuah sistem. Sistem adalah hubungan saling berketergantungan yang jika salah satu fungsi dalam sistem itu terganggu, maka terganggu pula kerja dan kinerja sistem itu. Apalagi bandara embarkasi dan debarkasi haji yang memberangkatkan ratusan bahkan ribuan jamaah calon haji. Di sana setidaknya ada tiga fungsi utama, yakni keimigrasian, kepabeanan, dan karantina. Dalam bahasa yang lebih keren ketiga fungsi itu disebut dengan fungsi imrigration, custom dan quarantine. Ketiga fungsi itu belum bisa berjalan jika tidak dilengkapi dengan rumah sakit khusus bagi jamaah calon haji.

Bandaranya sendiri harus memenuhi persyaratan teknis seperti ladasan pacu sepanjang 3 kilometer serta apron yang bisa digunakan untuk memarkir pesawat berbadan lebar dengan kapasitas 325 penumpang.

Apa yang hendak disampaikan auditorial ini adalah, bahwa impian besar, kalau benar-benar ingin dicapai dan diwujdukan, maka langkah pertama adalah konsolidasi para pemangku kepentingan. Konsolidasi pemahaman yang memudahkan perencanaan agar mimpi itu tidak mengambang di awang-awang.

Hal-hal besar memang berawal dari sebuah mimpi, tetapi sekali lagi, mimpi itu mesti dinarasikan ke dalam konsep operasional, agar membumi. Mimpi itu juga tidak boleh mengabaikan impian-impian lain, terutama yang menyangkut dan dirasakan langsung oleh orang banyak. Sebab, selain impian menjadi bandara Notohadinegoro sebagai bandara embarkasi dan debarkasi haji, di sana juga ada mimpi tentang menaikkan kualitas hidup rakyat yang diukur dengan indeks pembangunan manusia (IPM), meningkatkan produksi pertanian, peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan masyarakat. (Aga)

Comments are closed.