Jember Hari Ini – Lembaga agama diminta ikut berperan serta dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak di tengah era global yang ditandai dengan cepatnya perkembangan teknologi.
Demikian disampaikan pendeta Andri, salah satu fasilitator lokakarya pendamping anak dan anak lintas iman, di aula Hotel Panorama, Jumat pagi. Dalam acara yang digelar untuk memperingati Hari Anak Nasional itu, Andri menjelaskan masih banyak ajaran agama yang konservatif dan ditolak oleh anak-anak. Oleh karena itu, seluruh lembaga agama harus memanfaatkan keberadaan teknologi dalam menyampaikan dakwah kepada anak-anak. Saat ini, anak-anak sudah mampu mengakses seluruh informasi yang diinginkan dengan sangat cepat, sedangkan tidak semua informasi mampu memberikan pendidikan moral yang baik. Selain itu, sudah banyak ajaran-ajaran radikal yang memanfaatkan keberadaan teknologi dan berpotensi ditiru oleh anak-anak.
Sementara pengurus Komunitas Tanoker, Farha Cici Eka, mengatakan kondisi di Jember masih berpotensi terjadi konflik agama. Menurut Cici, seharusnya anak-anak diberikan pemahaman bahwa agama merupakan simbol kedamaian, bukan kekerasan. Hal itu karena setiap informasi konflik agama yang terjadi dapat diakses oleh seluruh masyarakat termasuk anak-anak.
Acara lokakarya itu mengundang seluruh lintas agama dan pengurus Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) Pemkab Jember. (Fian)

