PGRI Jember berencana menggalang solidaritas di kalangan sejawatnya di enam Kabupaten di tapal kuda. Rencana itu disampaikan Ketua PGRI Jember, pak Supriyono. Kata pak Supriyono PGRI di enam Kabupaten siap mendukung upaya PGRI Jember memperjuangkan nasib GTT-PTT.
Kalau boleh menduga dan mengira, pak Supriyono dan GTT-PTT merasa sudah mentok. Hingga menjelang ganti tahun kabar tentang surat tugas untuk GTT-PTT masih juga belum jelang juntrungnya. Bahkan aksi mogok yang pernah dilakukan GTT-PTT seolah tidak efektif. Karena itu PGRI dan GTT-PTT menggalang solidaritas. Barangkali saja cara itu lebih efektif lantas berdampak.
Begitulah, kalau boleh mengamsalkan, seperti layaknya balon yang di dalamnya ditiupkan udara terus menerus. Ketika udara yang masuk ke dalamnya melampaui kapasitas balon, maka bisa dipastikan balon itu bakal meledak. Dalam kehidupan sosial ledakan sosial terjadi ketika sekelompok masyarakat merasakan apa yang orang pintar menyebutnya hopeless dan meaningless: merasa tak punya harapan, merasa tak punya arti. Kedua perasaan itu, hopeless dan meaningless, akan menjadi energi besar ketika memuncak dan berakumulasi. Kalau boleh meminjam bahasa sehari-hari kira-kira bisa disebutkan kesabaran sudah sampai di ubun-ubun.
Ketertekanan, pengabaian dan perlakuan lain yang sejenis dengan itu berpotensi melahirkan keresahan sosial yang berujung pada gerakan sosial. Pada tingkat tertentu dan dalam skala yang lebih luas, bisa saja keterkenan dan pengabaian yang memunculkan perasaan tak punya harapan dan tak punya arti bisa pula melahirkan apa yang disebut civil disobedience atau pembangkangan sipil. Nah, akhirnya ketika terjadi pembangkangan sipil yang meluas, bagaimana kita bisa berharap terhadap apa yang disebut dengan partisipasi masyarakat. (Aga)

