
Jember Hari Ini – Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD-PBNU) KH. Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab), merespons sejumlah isu yang dinilai telah menyudutkan para santri, kiai di pondok pesantren. Sejumlah kabar ini muncul jelang peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober.
Rentetan ini dimulai dari peristiwa runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, pada 29 September 2025 lalu. Peristiwa tersebut mengakibatkan 63 santri meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh.
Sejak peristiwa tersebut, muncul sejumlah informasi di media sosial yang menyoroti budaya hingga kebiasaan di pondok pesantren. Terbaru, konten siaran di televisi Trans7 juga dikecam keras karena dinilai menghina kiai Pondok Pesantren Lirboyo.
Kepada Prosalina melalui program Komentar Rakyat pada Jumat (17/10/2025), Gus Aab menilai banyak kemasan informasi di media sosial yang tersaji tanpa data valid, serta tanpa pemahaman yang tepat sehingga memberikan cara pandang sepihak tentang aktivitas di pesantren.
Sementara khusus untuk konten yang ditayangkan Trans7, dia menilai bukanlah unsur kelalaian. Bahkan, dinilai ada satu gerakan terselubung untuk menjauhkan umat dari pesantren dan dari ulama.
Dia pun mempertanyakan, apakah konten yang ditayangkan tidak melalui proses pengawasan dan sensor. Sebab, semua media profesional pasti melakukan proses pengawasan sebelum sebuah informasi disajikan ke publik.
Dia pun menanggapi sejumlah fenomena gotong royong santri di pondok pesantren ketika melakukan pembangunan. Termasuk tradisi mencium tangan kiai, hingga memberikan amplop.
Gus Aab menyebut, tidak ada unsur eksploitasi di pondok pesantren. Sebab, pesantren membangun dengan anggaran sendiri. Alumni Ponpes Al-Khoziny ini pun menyebut, pada saat dirinya mondok, biaya yang dikeluarkan hanya berkisar Rp1.000 atau Rp750, sementara saat ini, anaknya yang mondok di sana, SPP-nya juga masih terbilang murah, yakni Rp75.000.
Maka, ketika pesantren melakukan pembangunan, santri akan dilibatkan untuk gotong-royong ketika ada pengerjaan besar seperti pengecoran. Dia pun juga menganalogikan kebiasaan santri mencium tangan kiai merupakan bentuk penghormatan, seperti anak kepada orang tuanya.
Dia pun melanjutkan, jika ingin memahami tradisi di pondok pesantren, maka siapapun perlu merasakan mondok, baru akan betul-betul memahami. (AJA-Ulil)
