
Jember Hari Ini – Banjir yang melanda Kabupaten Jember pada Senin, (15/12/2025), disebut sebagai kejadian luar biasa. Peristiwa tersebut dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang turun secara terus-menerus selama kurang lebih delapan jam,
Debit air akibat hujan deras tersebut bahkan disebut setara dengan banjir bandang Panti pada tahun 2006 silam, yang kala itu menelan sekitar 100 korban jiwa. Berdasarkan data, curah hujan mencapai 100 hingga 180 milimeter dengan durasi dari pukul 11.00 WIB hingga sekitar pukul 19.00 WIB.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Jember, Arief Liyantono, menjelaskan intensitas hujan sebesar itu masuk dalam kategori ekstrem dan sangat jarang terjadi.
Ia menyebutkan, Pusat hujan berada di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung dan DAS Jompo yang bersumber dari Pegunungan Argopuro dan Gunung Raung. Aliran kedua sungai tersebut kemudian bertemu dan menyebabkan lonjakan debit air secara signifikan.
Dia menyebut, puncak debit air tercatat mencapai 96,11 meter kubik per detik. Angka ini setara dengan banjir ulang 100 tahunan dan hampir menyamai banjir besar tahun 2006 yang mencapai sekitar 100 meter kubik per detik.
Ia menambahkan, ketinggian muka air di dam Rowotamtu pada banjir tahun 2006 mencapai sekitar enam meter. Sementara pada peristiwa banjir 15 Desember 2025, ketinggian air tercatat mencapai 5,6 meter, hanya terpaut sekitar 0,4 meter dari kejadian besar sebelumnya.
Arief juga menyoroti kondisi alur sungai yang berkelok-kelok serta faktor lingkungan sebagai penyebab yang memperparah dampak banjir. Diantaranya adalah alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian, serta dari lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan permukiman, yang berdampak pada berkurangnya daya resap air.
Selain itu, sistem drainase, khususnya di kawasan perumahan, dinilai perlu dikaji ulang. Pembangunan perumahan juga disebut meningkatkan penggunaan sumur tanah, yang turut memengaruhi keseimbangan tata air di wilayah tersebut. (Hafit)
