Sejumlah pengamat politik Universitas Jember menilai debat capres-cawapres, tidak berdampak besar mengurangi angka golput.
Menurut dosen FISIP Universitas Jember, Agung Purwanto, sebagian besar pemilih yang golput sudah ‘melek’ politik. Debat capres dan cawapres justru berpengaruh pada konstituen tradisional partai dan membantu mesin partai politik dalam mendongkrak perolehan suara karena dapat membangun kepercayaan konstituen terhadap partai pengusung pasangan calon tersebut.
Sementara untuk massa mengambang yang berasal kalangan menengah ke atas, tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang disampaikan capres dan cawapres pada saat acara debat. Agung justru melihat, debat hanya menjadi ajang pencitraan.
Hal senada disampaikan oleh pengamat politik UNEJ lainnya, Nur Hasan. Debat capres-cawapres, kata Nur Hasan belum mampu meyakinkan pemilih menentukan pilihannya. Masing-masing calon belum bisa mengembangkan pendapat dengan baik. Bahkan, terkesan acara debat tersebut seperti tayangan cerdas-cermat. Namun menurut Nur Hasan, acara debat capres dan cawapres dapat mempengaruhi pemilih di kawasan perkotaan, sedangkan di tingkat pedesaan cenderung memilih figur yang menurut mereka baik. (Hafit)

