
Jember Hari Ini – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember terus memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana menyusul tingginya potensi cuaca ekstrem di Jember. Penguatan dilakukan melalui sinergi lintas sektor, optimalisasi sistem peringatan dini, serta pemberdayaan Desa Tangguh Bencana (Destana) hingga lingkungan pendidikan.
Kepala BPBD Jember, Edi Budi Susilo, Kamis (29/01/2026) menjelaskan, pihaknya secara rutin melakukan kajian kebencanaan melalui tim internal, salah satunya Tim Jitu Pasna untuk kemudian memberikan rekomendasi kepada dinas teknis terkait. Rekomendasi tersebut disesuaikan dengan jenis kerawanan yang ditemukan di lapangan. Menurutnya, banjir luapan yang kerap terjadi di kawasan perkotaan, termasuk wilayah kampus, menjadi perhatian serius terutama akibat persoalan drainase dan sampah.
Terkait persoalan sampah yang menyumbat draenase, pihaknya merekomendasikan ke Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup. Untuk daerah aliran sungai dan longsoran, pihaknya sampaikan ke Dinas PUPR. Laporan ke OPD terkait disampaikan usai asesmen awal.
Dalam menghadapi potensi bencana, BPBD Jember juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, khususnya di wilayah rawan. Mitigasi dilakukan tidak hanya di lingkungan permukiman, tetapi juga di sekolah dan lembaga pendidikan.
Salah satu bentuk mitigasi tersebut adalah penerapan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS), khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kalijompo. Di wilayah ini, masyarakat telah dibekali pemahaman terkait skala ketinggian air sebagai dasar evakuasi. Jika indikator peringatan dini menunjukkan skala 150, 200, sampai 250, masyarakat di DAS Kalijompo sudah harus tahu titik evakuasi dan langkah penyelamatan keluarga.
Selain EWS berbasis digital, BPBD juga memadukan pendekatan kearifan lokal, terutama di wilayah yang belum memungkinkan pemasangan alat peringatan dini. Relawan di wilayah hulu sungai dilibatkan untuk memberikan peringatan menggunakan metode tradisional, seperti kentongan, saat terjadi tanda-tanda kenaikan debit air.
Terkait Desa Tangguh Bencana, Edi menegaskan destana merupakan ujung tombak penanggulangan bencana di tingkat desa dan kelurahan. Dari total 248 desa dan kelurahan di Jember, baru sekitar 124 yang telah membentuk Destana atau sekitar 50 persen.
Ia menargetkan seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Jember telah memiliki destana aktif pada tahun 2026, disertai pelatihan dan peningkatan kapasitas agar mampu melakukan deteksi dini, pelaporan cepat, dan koordinasi dengan Pusdalops BPBD. (AJA-Ulil)
