Jember Hari Ini – Kekeringan di Kabupaten Jember semakin meluas di tengah puncak musim kemarau bulan Agustus 2026. Krisis air bersih mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah, mulai Kecamatan Sumbersari, Bangsalsari, Jelbuk, Pakusari hingga Silo. Kondisi tersebut membuat pemerintah dan lembaga kemanusiaan harus meningkatkan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Terbaru, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember menyalurkan 2.500 liter air bersih ke kawasan Tlogo Wetan, Dusun Pelinggian, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Senin, (10/08/2026).
Bantuan tersebut diberikan setelah warga mengalami krisis air bersih akibat kekeringan. Armada truk tangki PMI tiba di lokasi sekitar pukul 08.00 WIB dan langsung menyalurkan air ke dua tandon darurat yang telah disiapkan di kawasan permukiman warga.
Berdasarkan hasil asesmen, bantuan tersebut diperuntukkan bagi 50 Kepala Keluarga atau sekitar 210 jiwa, terdiri dari 117 laki-laki dan 93 perempuan. Puluhan warga tampak mengantre dengan membawa berbagai wadah untuk menampung air.
Sub bidang penanggulangan bencana PMI Kabupaten Jember, Wachid Budhi Santoso, melalui Ghufron Eviyan Efendi mengatakan distribusi air akan terus dipantau untuk memastikan tandon darurat tidak mengalami kekosongan.
Sehari sebelumnya, Sabtu (08/08/2026), BPBD Jember juga menyalurkan air bersih ke Lingkungan Pelinggian, Kelurahan Antirogo. Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Jelbuk. Di Dusun Sumber Tengah, Desa Panduman, sebanyak 102 kepala keluarga dari total 180 KK membutuhkan pasokan air bersih.
Krisis air di wilayah tersebut dipicu tidak berfungsinya sistem pipanisasi atau pamsimas sejak april 2026. Saat musim kemarau berlangsung, sumur-sumur warga kemudian mengering dan sebagian kondisinya kotor.
Sementara itu, di Kecamatan Bangsalsari, sebanyak 75 Kepala Keluarga di Dusun Dukuh II, Desa Banjarsari, juga menerima bantuan air bersih. Warga selama ini mengandalkan jaringan pipanisasi yang bersumber dari mata air di sungai perbatasan desa tugusari. Namun, sumber air tersebut sudah tidak layak konsumsi karena tercemar dan kotor.
Debit air juga mengalami penurunan dan terkadang tidak mengalir. Upaya pemerintah desa membuat sumur bor belum membuahkan hasil karena tidak ditemukan sumber mata air. (Ulil)

