Jember Hari Ini – Seorang siswi kelas X SMK Muhammadiyah 4 Jember, Merisa, harus berjuang menjalani pengobatan gagal ginjal dengan keterbatasan ekonomi. Warga Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, itu harus menjalani kontrol dan cuci darah dua kali dalam sepekan ke rumah sakit dengan menaiki bentor milik ayahnya.
Ayah Merisa, Slamet, menceritakan, dirinya sehari-hari bekerja sebagai tukang becak dengan penghasilan sekitar Rp20 ribu. Penghasilan tersebut bahkan kerap hanya cukup untuk membeli bahan bakar, sementara kebutuhan makan keluarga harus dipenuhi dengan mencari pinjaman.
Kondisi tersebut membuat keluarga kesulitan memenuhi biaya transportasi untuk membawa Merisa menjalani pengobatan secara rutin dua kali tiap pekan. Menurutnya, hingga kini belum ada petugas medis yang datang langsung ke rumah untuk membantu kondisi Merisa.
Slamet menyebut perangkat desa setempat sebenarnya sudah mengetahui kondisi keluarga tersebut. Namun, keluarga masih harus berjuang sendiri untuk membawa merisa ke rumah sakit setiap kali jadwal kontrol dan cuci darah. Slamet berharap Pemerintah Kabupaten Jember melalui Bupati Muhammad Fawait dapat membantu transportasi Merisa.
Lebih jauh Slamet mengatakan, sejauh ini ia belum pernah dimintai Kartu Keluarga atau adminduk lain terkait pengobatan putrinya. Slamet juga mengaku belum mengetahui terkait program Home Care Pemkab Jember. (Rusdi)

