BNPB Semaikan 1 Ton Garam untuk Picu Hujan, Bantu Pemadaman Karhutla Jawa Timu

Ilustrasi.

Jember Hari Ini – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menyemaikan 1 ton garam atau Natrium Klorida (NACL) untuk memicu pertumbuhan awan hujan. Upaya ini dilakukan untuk membantu penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sejumlah kawasan pegunungan di Jawa Timur.

Operasi modifikasi cuaca berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 24-25 Oktober 2026. BNPB mengerahkan pesawat Cessna Caravan yang beroperasi dari base Ops Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Sidoarjo.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan, penyemaian awan pada Sabtu dilakukan dalam satu sorti penerbangan, mulai pukul 14.45 hingga 16.45 WIB. Penyemaian dilakukan di wilayah udara Probolinggo, Pasuruan, dan sekitarnya.

BNPB berharap pertumbuhan awan hujan dapat membantu proses pemadaman Karhutla. Berdasarkan laporan BPBD Jawa Timur, potensi hujan ringan diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah selatan dan barat Jawa Timur.

Berdasarkan data BPBD Jawa Timur, selama masa siaga darurat, Karhutla tercatat terjadi sebanyak 184 kali di 26 kabupaten/kota. Luas lahan yang terbakar mencapai 11.449 hektare, dengan 77,05 persen diantaranya merupakan kawasan hutan konservasi.

Sementara itu, prakirawan BMKG pos Meteorologi Jember, Hukama Nur Akmal, menyampaikan saat ini pada Senin siang (26/10/2026), terpantau awan hujan di daerah Sukorambi dan Panti. Diprakirakan hujan akan menuju kawasan kota Jember hingga pukul 18.00 WIB. Angin timur laut dari Pasifik barat berhembus ke Indonesia berpotensi memicu peningkatan awan hujan di sekitar Kalimantan dan Jawa. 

Dia memperkirakan potensi hujan di wilayah Jember pada awal periode November, diperkirakan masih relatif rendah, yakni berkisar 0 hingga 50 milimeter per dasarian.  

Potensi hujan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kondisi kering di sejumlah wilayah. Namun, upaya pengendalian Karhutla tetap membutuhkan penanganan berkelanjutan, terutama di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau. (Ulil)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*