Petani di Jember tidak bisa seluruhnya ikut dalam model kemitraan. Selain karena perusahaan yang membuka model kemitraan dengan petani jumlahnya terbatas, ada juga petani yang enggan mengikuti model kemitraan.
Menurut Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Jember, Agus Suripto, keengganan petani ikut dalam model kemitraan karena harga di pasar kadang sangat tinggi, sehingga petani berpikir bisa meraup keuntungan lebih besar. Karena itu, Dinas Pertanian akan terus melakukan sosialisasi manfaat model kemitraan.
Dinas Pertanian terus mengajak petani ikut serta dalam model kemitraan yang memberikan kepastian harga. Selain itu, Dinas Pertanian juga mengadakan Sekolah Lapang. Petani diajak melakukan pengamatan sendiri, baik terkait hama maupun ekosistem cabe. Namun karena keterbatasan dana, setiap tahun Sekolah Lapang hanya dilaksanakan di 1 atau 2 titik. Tahun ini dilaksanakan di Kecamatan Mayang.
Pengamat ekonomi Universitas Jember, Fathur Rosi, mendukung langkah dan program yang digulirkan BI dan Dinas Pertanian Jember. Ke depan perlu dibangun trading house atau rumah perdagangan. Melalui trading house, pemerintah bisa menyediakan informasi harga, pembeli dan petani cabe bisa bertemu di satu titik dan melakukan transaksi. Pemerintah juga diharapkan memasang papan informasi harga di pasar-pasar tradisional. (Ely)
