Sedikitnya 1.500 hektar lahan pertanian diterjang banjir akibat guyuran hujan seharian, hari Minggu (28/12/2014) lalu. Data Dinas Pertanian menyebutkan 1.500 hektar lahan pertanian yang terancam gagal panen itu tersebar di 7 kecamatan. Sedang komoditas yang terancam gagal panen meliputi padi, cabe, dan semangka. Bisa jadi areal yang terendam bisa bertambah sejalan dengan pendataan yang masih berlangsung. Sementara itu, tentang kemungkinan ada komoditi pertanian yang bisa diselamatkan, pejabat Dinas Pertanian Jember menyebutkan peluangnya tidak cukup besar.
Setiap musim penghujan kalau bukan banjir, biasanya wabah penyakit yang mengiringinya. Kalau dilihat sebagai bawaan alam, maka jawabnya adalah bahwa setiap kejadian dan peristiwa yang mengiringi musim penghujan berada di luar kendali manusia. Tetapi beberapa peristiwa memperlihatkan bahwa manusia ikut andil dalam menciptakan bencana. Tengok umpamanya bencana longsor Panti 2006 lalu. Bencana yang menelan 200-an korban jiwa itu diindikasi akibat penebangan yang berlangsung semena-mena. Akibatnya, daya dukung kawasan bagian yang mestinya berfungsi sebagai resapan air merosot, tidak sanggup menahan air.
Apa yang hendak disampaikan audiotorial Prosalina adalah bahwa manusia bisa berbuat sesuatu, setidaknya meminimalisasi kerugian akibat bencana. Mengubah perilaku manusia yang mengarah pada perusakan ekosistem dan penyempurnaan terus menerus manajemen bencana adalah dua hal penting yang bisa diikhtiarkan manusia.
Syukurlah, di Jember manajemen bencana berjalan dengan baik. Konsolidasi dan sinergi para pemangku kepentingan efektif sehingga banjir yang menimpa beberapa kawasan tidak sampai menimbulkan kerugian besar. Petingginya turun langsung ke lapangan memobilisasi segenap kekuatan yang dimiliki. Koordinasi kabarnya juga berjalan efektif. Pemkab, polisi, dan TNI, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah bekerja maksimal. Di beberapa desa di Tanggul yang kebanjiran, warga setempat bisa menempati kembali rumahnya dalam tempo kurang dari sehari karena polisi dan TNI turun bersama membersihkan rumah warga.
Begitulah, ikhtiar menyempurnakan manajemen bencana yang meliputi pemetaan daerah rawan, sistem peringatan dini, dan penanganan ketika bencana terjadi, telah membuahkan hasil. Tentu akan lebih komplit jika disertai dengan perubahan perilaku masyarakat yang mengarah dan menyebabkan merosotnya kemampuan ekosistem mencapai keseimbangan. Dan hari ini, ikhtiar itu dilengkapi dan disempurnakan dengan doa bersama yang digelar di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Kita berharap doa bersama yang dihelat hari ini, dan dihadiri para petinggi Kabupaten Jember, termasuk Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana, menumbuhkan kesadaran bahwa manusia bukan mahluk digdaya yang bisa memperlakukan dan mengeksploitasi alam semena-mena.
(Aga)
