Ada kabar 10 pabrik gula bakal ditutup. 9 di antaranya adalah pabrik gula yang berada di Jawa Timur. Tak pelak lagi, Gubernur Jawa Timur, pak Soekarwo, menentang keras rencana itu. Dalam hemat pak Karwo penutupan pabrik gula akan menimbulkan gejolak sosial, yang tentu saja, diawali dengan gejolak ekonomi. Pak Karwo lantas mengingatkan tentang tenaga kerja yang bakal mengalami PHK atau petani dan buruh tani yang kehilangan pekerjaan.
Mungkin skemanya tidak begitu, petani masih bisa melempar tebunya ke pabrik yang tidak termasuk ke dalam kelompok PG yang ditutup. Tetapi tetap saja dianggap memberatkan petani karena harus menanggung biaya transportasi tambahan.
Indonesia pernah tercatat sebagai produsen gula terbesar kedua pada tahun 1930-an. Waktu itu namanya masih Hindia Belanda. Karena gula menjadi komoditi primadona, tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Hindia Belanda waktu itu mendirikan 179 pabrik gula. Sebagian besar berada di Jawa.
Sekarang kebalikannya, Indonesia hanya bisa memproduksi 2,5 juta ton gula setahun. Sementara kebutuhan konsumsi dalam negeri mencapai 3 juta ton. Indonesia justru terkejar oleh Thailand yang sekarang mampu memproduksi hingga 11 juta ton gula pertahun. Indonesia juga tercatat sebagai negara pengimpor gula terbesar ketiga di dunia. Ada prediksi, kalau tidak ada perbaikan, lima tahun ke depan Indonesia bisa menjadi negara pengimpor kedua terbesar di dunia.
Thailand bisa mengejar Indonesia karena negeri ini sangat menghargai petani. Selain itu, Thailand terus menerus mengembangkan riset untuk keperluan peningkatan rendemen. Petani difasilitasi pinjaman lunak, harga tebu mereka dihargai melebihi harga pasar. Sedemikian rupa sehingga mereka terangsang menanam tebu. Pabrik gula didirikan dengan teknologi yang lebih efisien.
Begitulah, maka tidak berlebihan jika pak Gubernur Soekarwo melontarkan pendapat, perbaikan produksi gula tidak bisa dilakukan dengan menutup pabrik gula, melainkan dengan peningkatan kualitas tanaman tebu.
Kalau Thailand dijadikan model, maka selain rangsangan bagi petani, riset yang diarahkan pada peningkatan kualitas tanaman tebu untuk memperoleh rendemen yang tinggi, serta modernisasi pabrik, adalah beberapa langkah yang harus ditempuh.
Begitulah, semua bergantung kesungguhan pemerintah. Kalau pemerintah bersungguh-sungguh, model yang diterapkan thailand bisa diadopsi di sini meski barangkali tidak sama persis. Kalau tidak, maka prediksi bahwa lima tahun ke depan negeri ini menjadi improtir gula kedua terbesar di dunia bisa menjadi kenyataan. Jangan lupa di sana juga ada resiko, yakni resiko bahwa pemerintah akan dicurigai sedang menerapkan skema yang disengaja agar kebijakan impor gula mendapat landasan pembenaran. (Aga)
