Talkshow Prosalina, Belajar dari Kasus Bencana di Sumatra, Sudahkah Kita Peduli?

Rohim Zabriansyah Hakim.

Jember Hari Ini – Masyarakat Indonesia kini sedang berduka dengan bencana banjir bandang yang menghantam tiga provinsi di Sumatra, mulai dari Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Senin (08/12/2025), total korban meninggal akibat bencana di Sumatra mencapai 961 orang. Kemudian jumlah korban yang berhasil dievakuasi mencapai 10.957 orang serta korban selamat sebanyak 9.983 orang.

Disisi lain, lebih dari satu jiwa kini telah mengungsi, meninggalkan kampung halamannya yang telah dihantam bencana.

Lantas, apa yang bisa kita pelajari dari bencana alam yang dipicu akibat perbuatan manusia tersebut? Dalam momentum ini, Prosalina menggelar talkshow mengangkat tema “Belajar dari Kasus Bencana di Sumatra, Sudahkah Kita Peduli?” pada Selasa (09/12/2025).

Pemerhati Sejarah dan Lingkungan, Rohim Zabriansyah Hakim, mengajak publik melihat kembali hubungan manusia dengan lanskap alam, sekaligus menyoroti bagaimana bencana besar di Sumatra menjadi refleksi bagi daerah lain, termasuk Jember.

Dalam talkshow tersebut, Rohim menggambarkan Sumatra sebagai pulau yang sejak masa hindia belanda dijuluki pulau emas, bukan hanya karena kekayaan sumber daya, tetapi karena banyaknya pelajaran sejarah dan kebudayaan yang tumbuh seiring bentang alamnya. Menurutnya, lokasi kerajaan-kerajaan lama pun tak lepas dari faktor alam, termasuk ketersediaan material dan kondisi geografis yang mendukung.

Hakim kemudian menyebut, bencana di Sumatra bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi peringatan agar bangsa tidak mengabaikan kearifan lokal dalam merawat alam.

Hakim mengungkap tiga provinsi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memiliki tradisi kuat dalam memperlakukan hutan dan lanskap dengan bijak. Namun, praktik tersebut perlahan terkikis dan kalah oleh kebijakan.

Pernyataan ini ia tarik kembali pada contoh di Jember, ketika banjir bandang tahun 2006 yang merenggut lebih dari seratus nyawa. Meski skalanya jauh lebih kecil dibanding Sumatra saat ini, satu nyawa pun tidak pernah layak diremehkan.

Hakim, kemudian menyinggung fenomena iklim global yang semakin tidak terprediksi dengan beragam siklon tropis. Indonesia, katanya, merasakan dampak besar dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, salah satunya karena deforestasi dan ekspansi industri sawit yang menggerus tutupan hutan.

Alam sedang berubah. Udara mencari titik sejuk, laut naik, suhu bumi meningkat. Bila kebijakan tidak berpihak pada kelestarian, bukan tidak mungkin, bencana akan datang lebih sering.  

Dia mengingatkan, bahwa bencana bukan sekadar isu teknis dan data korban, tetapi juga persoalan sejarah, budaya, serta pilihan pembangunan yang kita ambil hari ini. Belajar dari Sumatra bukan hanya soal melihat bencana, tetapi memahami bahwa alam memberi tanda, dan manusia memilih apakah akan mendengarnya. (Ulil-AJA)

Comments are closed.