
Jember Hari Ini – Kondisi retakan tanah di kawasan Pegunungan Argopuro yang hingga kini belum tertangani dinilai semakin mengkhawatirkan. Retakan tersebut disebut berpotensi memicu bencana yang dampaknya bisa lebih ekstrem dibandingkan banjir bandang di Kecamatan Panti pada 2006 silam apabila tidak segera dilakukan langkah penanganan serius.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jember, Suprihandoko, Rabu (31/12/2025), mengatakan retakan tanah di Wilayah Argopuro yang juga menjadi pemicu bencana besar dua dekade lalu, hingga kini masih belum terkendali. Ia menilai kondisi kawasan hutan yang telah banyak beralih fungsi menjadi lahan pertanian saat ini berada dalam situasi rawan.
Menurutnya, dampak yang ditimbulkan bisa jauh lebih berbahaya dibandingkan peristiwa banjir bandang tahun 2006. Hal ini disebabkan rekomendasi reboisasi besar-besaran belum dijalankan. Hingga sekarang belum ada upaya penanaman kembali pohon dengan sistem perakaran kuat yang mampu menahan erosi, mencegah banjir, maupun longsor.
Suprihandoko menegaskan, kondisi tersebut seharusnya diantisipasi pemerintah melalui kebijakan yang tegas, termasuk pengaturan jarak sempadan sungai yang aman serta pembatasan pembangunan permukiman di wilayah rawan bencana.
Ia berharap pihak berwenang dapat memperjuangkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada keselamatan warga Jember, antara lain dengan melakukan reboisasi secara masif, menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai, serta menindak tegas pelaku pembuangan sampah sembarangan agar menimbulkan efek jera.
Suprihandoko juga mengakui, hingga kini persoalan lingkungan tersebut belum dapat diselesaikan secara menyeluruh. Namun ia optimistis, dengan penggabungan dua OPD, yakni Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menjadi Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Pemkab Jember, penanganan banjir dan persoalan dampak lingkungan lainnya dapat dilakukan lebih terintegrasi.
Sebelumnya, hujan lebat yang mengguyur wilayah Jember pada Senin 15 Desember 2025 merendam ratusan rumah. (Hafit)
